‘Mati Muda dalam; Sumpah Pemuda’ (bagian 1)

<!–
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:Times;
panose-1:2 0 5 0 0 0 0 0 0 0;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:auto;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}
@font-face
{font-family:"MS 明朝";
mso-font-charset:78;
mso-generic-font-family:auto;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;}
@font-face
{font-family:"Cambria Math";
panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:auto;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-536870145 1107305727 0 0 415 0;}
@font-face
{font-family:Cambria;
panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:auto;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-536870145 1073743103 0 0 415 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-unhide:no;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:Cambria;
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:"MS 明朝";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
p
{mso-style-priority:99;
mso-margin-top-alt:auto;
margin-right:0cm;
mso-margin-bottom-alt:auto;
margin-left:0cm;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:Times;
mso-fareast-font-family:"MS 明朝";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}
.MsoChpDefault
{mso-style-type:export-only;
mso-default-props:yes;
font-family:Cambria;
mso-ascii-font-family:Cambria;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:"MS 明朝";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Cambria;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
@page WordSection1
{size:595.0pt 842.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:35.4pt;
mso-footer-margin:35.4pt;
mso-paper-source:0;}
div.WordSection1
{page:WordSection1;}
Tak salah Soe hok Gie pernah mengutip perkataan
seorang filsuf Yunani; ‘nasib terbaik
adalah tidak dilahirkan yang kedua dilahirkan tapi mati muda dan tersial adalah
umur Tua’
. Tidak dilahirkan artinya tak ada dosa, tak berbeban sejarah dan
tanpa cela. Itu doa Gie yang pada akhirnya memang mengantarkan takdirnya pada
pilihan kedua, mati muda di usia 26 tahun. Gie tak sempat merasakan umur tua,
umur yang katanya adalah kesialan dalam hidup. 
Soe Hok Gie; memilih mati muda

Mungkin memang benar sejarah negeri ini  adalah sejarah kaum muda, mereka yang
meledak-ledak, tergesa-gesa, tidak sabar dan pemarah. 28 oktober 1928 adalah
satu buktinya,  ketika Muhamad Yamin
seorang pemuda jong sumatranen bond mengirim sebuah kertas kepada Soegondo pada
penutupan kongres pemuda ke II, sebuah ikrar yang berbunyi seperti ini ;

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah
Indonesia.
Kedoewa
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa
Indonesia.
Ketiga Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa
Indonesia.

 

Walau Yamin tidak berakhir mati muda seperti Gie,
tapi pencapaian M. Yamin terbesar dalam hidupnya adalah ikrar ini. Ikar yang
dituliskanya pada saat  usianya baru 25
tahun. Sebuah pesan sejarah  yang 17
tahun kemudian, membuat Chaerul Saleh pada tanggal 15 agustus 1945, mendesak
Soekarno dengan nada yang tak sabar ; Sekarang  Bung, sekarang! malam
ini  juga  kita kobarkan revolusi
!
Sebuah gagasan yang awalnya ditolak oleh Soekarno, karena
bung karno menilai pemuda-pemuda dihadapanya terlalu muda untuk memahami makna
merdeka. Pandangan Soekarno itu mendapatkan amuk dari pemuda Wikana  yang  marah;” Jika Bung Karno  tidak mengeluarkan pengumuman pada malam  ini
 juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan
besar-besaran esok hari
.”
Akhirnya setelah perdebatan yang panjang dengan para pemuda,
sebagaimana dituliskan oleh Ahmad Soebardjo (1978:85-87) dua hari kemudian, 17
tahun setelah M. Yamin menulis ikrar sumpah pemuda, tepat tanggal 17 Agustus
1945 Soekarno-Hatta  membacakan Proklamasi,
sebuah pernyataan tentang lahirnya Negara yang fondasinya telah dibacakan 17
tahun sebelumnya oleh para pemuda-pemuda tak sabar, Indonesia merdeka!
Soekarno saat Proklamasi
Memang yang muda harusnya adalah mereka yang membuang rasa
takut, mereka yang berpikiran pendek. Andaikata, Charul Saleh, Wikana, M. Yamin
atau Soegondo
dan pemuda-pemuda lainya tak berani mengambil beban sejarah saat itu, mungkin
cerita republik ini akan berbeda.  Tak
ada kisah 1928, 1945, 1966 atau reformasi 1998.
Bukankah
sejarah menjadi menarik dengan lara, duka, amarah dan amuk? Seperti puisi
Chairil Anwar ; ‘sekali berarti setelah
itu mati’
! Puisi yang menyaratkan pikiran pendek dan mungkin tergesa-gesa,
yang oleh S.Takdir Alisjahbana dicemooh sebagai ‘rujak belaka’.
‘Chairil Anwar; ‘Sekali Berarti sesudah itu mati’
Tapi
Chairil memang menjawabnya secara dramatis dalam kehidupanya sendiri, sekali
berarti setelah itu mati, ia mati di umur 27 tahun sebuah usia yang masih
belia. Tapi benarkah Chairil benar-benar mati bersama karya-karyanya? Tidak,
karya Chairil tetap hidup sampai saat ini, karya yang selalu dibacakan
disekolah-sekolah, dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, dari pelosok
kampung sampai mimbar-mimbar sastra internasional.  Chairil tidak mati, Ia anak hilang yang
selalu pulang dalam benak jutaan rakyat negeri ini.
Chairil
mungkin sama dengan Gie, mereka sinis akan dunia dan usia tua. Mereka menolak
untuk bijak sembari hidup dengan karyanya yang tetap muda, penuh gelombang amarah
dan protes. Memilih untuk menjadi tetap muda walau karya-karyanya menjadi tua
oleh waktu.
Mereka juga
punya satu kesamaan sebagaimana pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan lainya; ‘memilih
mati dalam sumpahnya sebagai pemuda’! Sosok-sosok yang tak kita temui lagi dari
para angkatan mahasiswa 1998 yang menjadi wakil kaum muda di era reformasi 1998
yang pernah juga bersumpah ketika gelombang protes sedang membahana;
kami mahasiswa Indonesia bersumpah bertanah air satu, tanah
air tanpa penindasan, berbangsa satu bangsa yang gandrung akan keadilan dan
berbahasa satu bahasa tanpa kebohongan
.
Mungkin para pemuda pejuang 1998
lupa satu hal, memilih mati dalam sumpahnya sebagai pemuda, mereka lebih senang
menjadi tua dan bijak tidak seperti Chairil dalam puisinya ; ‘sekali berarti setelah itu mati’!
Bersambung…
Tulisan ini dibuat untuk menyambut hari sumpah pemuda
Bandung, 18 Oktober 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy this password:

* Type or paste password here:

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation